Saturday, April 18, 2009
Obrolan Akar Rumput
Monday, March 9, 2009
Catatan Harian Bersama Balawan, Daft Punk dan Anton Chekov.
Hari-hari yang saat ini saya alami dapat dibilang hari-hari yang penuh perenungan, atau istilah buat saya yang dipublish oleh kakak-kakak saya adalah 'ngayal'. Dalam hal ini, jika bisa divisualkan, saya memilih untuk menambahkan keringat yang berlumuran di permukaan otak saya... memang ini adalah aktifitas penemuan ide yang tidak mudah, itulah kira-kira penyebabnya. Kesadaran akan Tugas Akhir kuliah yang sebentar lagi akan terlaksana memaksa saya untuk mengalami ini semua, mulai dari filtrasi terhadap beragamnya asedensi idealisme hingga tak henti-hentinya saya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta petunjuknnya yang paling afdol. Dan pada suatu kulminasi tertentu saya mencoba untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam rumah, salah satunya mendengarkan musik yang terkesan merupakan kegiatan simple. Saya buka folder lagu yang ternyata sudah mencapai 25 Gb di komputer, menurut saya ini angka yang besar meski terlalu banyak file mp3 hasil convert dengan kulitas yang secara otomatis bisa menggelembunggkan besar ukuran setiap filenya, tapi bagaimanapun juga koleksi itu terlihat sudah banyak. Sambil berpikir bagaimana cara membackup data lagu-lagu itu sehingga harddisk bisa sedikit "bernapas", saya mulai dengan mendengarkan lagu dari Daft Punk, duo asal perancis ini memang esentrik sekali dengan jubah robotnya, bisa ditebak musik mereka memang menggunakan pendekatan elektronik yang kental. Saya kenal Daft Punk dari teman saya bernama Rio, dia pemuda yang tangguh dengan empiris teknologi kekiniannya dan meski saya sudah jarang bertemu dia akhir-akhir ini, sebagai rasa terima kasih telah mengenalkan Daft Punk (DP), saya doakan apa yang dilakukannya akan lancar diluar sana... (amien io!). dan sampailah saya pada sebuah lagu milik DP berjudul Something About Us setelah sebelumnya lagu Digital Love adalah lagu favorit di folder DP, saya merasa keringat-keringat di otak saya mulai terkena angin ketika mendengarkan Something About Us. Tidak tahu lagu itu memiliki teknik apa, yang jelas saya suka melody nya, untuk liriknya memang gampang sih didengarkan, tidak seperti lagu-lagu barat pada umumnya yang kabur karena pronounce masing-masing, dan saya mencoba untuk tidak menyelami lirik kali ini, just singing, sampai-sampai saya memberanikan scat (meski kacau) dengan lick melody di akhir-akhir lagu...
Lalu sambil menikmati saya berpikir apa kira-kira lagu yang ingin saya dengar berikutnya, dan album baru Balawan ; see you soon memang masih mencuri perhatian saya. Dua lagu jumlah yang saya pilih dalam album gitaris terpuja kali ini, yaitu Asal Kau Mau dan Like Someone In Love, lagu yang pertama diciptakan oleh Dewiq dan dinyanyikan dengan khas oleh Balawan, namun pada dasarnya, (lagi-lagi) melody di kedua lagu ini yang membuat saya mudah terngiang, terasa damai, tentram, dan sejuk mungkin...
Setelah menambahkan beberapa lagu-lagu yang hanya bersifat 'Partai tambahan', saya mencari buku milik mas Adin yang saya pinjam beberapa waktu yang lalu, buku ini merupakan kumpulan cerita pendek Anton Chekov sang penulis yang termahsyur di akhir abad ke-19. Seperti berpetualang dengan budaya rakyat Rusia jika saya membaca cerita-ceritanya, cerita-cerita pendek itu bagai film-film pendek buat saya, Chekov menggambarkan dengan kalimat yang begitu detil juga sopan, kesopanan karya-karya Chekov membuat motivasi tersendiri bagi saya, mungkin ini karena imbas kebiasaan akhir-akhir ini yang sering melahap buku-buku dengan penulis yang bersifat ilmiah. Kata 'sopan' mungkin dapat diartikan 'sederhana', tapi saya mencoba tetap memakai kata 'sopan', karena lihat saja bagaimana beliau bertutur menyebut pembacanya dengan 'Pembaca yang budiman', zaman bisa saja menjadi alasan fundamental bagi kepribadian Chekov waktu itu, dan kesimpulannya, menyimak tulisan Anton Chekov seperti sedang berdialog dengan seorang pemuda yang sopan.
Itulah secuil hal yang perlu saya syukuri kali ini, penemuan ide memang selalu terasa aneh bagi saya, tidak menyangka jalan berliku itu akhirnya dapat dilewati dengan cara-cara yang cenderung tidak sengaja kecuali cara saya meminta petunjuk kepada-Nya.
Benar juga anekdot si editor film, Walter Murch, It can be complicated to be simple and simple to be complicated but sometimes it is just complicated to be complicated.
Monday, February 23, 2009
Gedung Bioskop dan Andi
Di suatu siang yang panas dan berdebu, sebuah mobil dan beberapa sepeda motor beranjak pergi satu persatu meninggalkan TK yang berada di belakang sebuah bioskop. Memang membingungkan jika mengingat denah penataan bangunan-bangunan itu, apa tujuannya? itulah yang saya pikirkan saat beranjak dewasa, dalam satu komplek yang padat di pusat kota, ada bioskop yang cukup besar dengan kegiatan hiburan filmnya (rata-rata film kelas B), sebuah TK yang penuh keceriaan, beberapa kantor pemerintahan dengan rutinitasnya, juga sebuah perpustakan umum yang sepi pengunjung dan memiliki intensitas cahaya ruangan cenderung gelap. Bermacam-macam ekspresi yang dimiliki murid-murid TK saat itu, ketika para orang tua, mbak, mas, atau siapa saja yang berpredikat sebagai pengasuh mulai tersenyum setelah beberapa saat menunggu kepulangan sang buah hati di depan sekolah. Ada yang cemberut, tertawa riang, lega, bahkan menangis tidak mau pulang. Untuk yang terakhir saya juga heran, pasti ada saja yang menangis setiap kali jam pulang sekolah tiba, saya tidak ingat lagi apa saja penyebabnya, tapi yang jelas Devi si pirang-lah pemegang rekor untuk kategori terbanyak menangis di saat pulang sekolah. Memang saya berada pada kelompok anak-anak yang memiliki "waktu lebih" untuk tetap bermain-main disekolah mengingat kantor Ibu yang hanya berjarak 50 meter dari sekolah. Jadi dengan bermain dan kadang-kadang dicampur bengong, saya bisa mengamati adegan jemput di sekolah itu. Jelas, saya tidak sendiri, ada beberapa teman lagi yang ikut bergabung untuk menikmati fasilitas sekolah seperti prosotan, jungkat-jungkit, dan ayunan sebagai favorit, semuanya laki-laki. Andi, adalah teman yang berhasil saya ingat, disini dia bukanlah sahabat yang paling dekat dengan saya, juga bukan seorang musuh bagi saya, tapi entah kenapa hanya nama dia yang berhasil saya ingat (meski bukan nama lengkap), kaki nya yang penuh bekas luka, badannya yang montok, rambut cepaknya, seragamnya yang selalu dekil, semuanya masih jelas terbayang. Andi merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dialah putra kedua dari tukang kebun sekolah kami, jadi mungkin sebuah kewajaran jika saya jarang sekali melihat Andi menangis disekolah, malah bisa dibilang Andi adalah seorang anak yang kuat.
Suatu ketika Andi dengan jiwa berpetualangnya bersama saya berniat untuk menelusuri "tetangga kami", yaitu gedung bioskop. Sebagai latar belakang, bioskop ini bernama Lawu (nama telah dikoreksi oleh salah satu pembaca blog), waktu itu saya tidak akan mau tahu untuk mengetahui kapan berdirinya, gedungnya cukup besar, inilah gedung bioskop paling besar se-kotamadya, di situ terdapat juga arena billyard, kumpulan rumah makan dan tempat parkir yang luas. Namun memang, entah kenapa bioskop ini sudah mengalami keterpurukan waktu itu, perawatan bangunan yang kurang (sampai-sampai terkesan angker), sepinya pengunjung dan film-film yang diputar adalah kategori film dewasa, otomatis poster-poster film dari bahan kain yang sangat besar membentang di depan bioskop, tangan ibu selalu menutup mata saya ketika harus melewati bioskop ini untuk berangkat ke sekolah dan saya hanya bisa diam dengan tetap berpegangan pada stir motor. Hampir semua guru di TK juga tidak henti-hentinya memberikan larangan untuk bermain di gedung bioskop, apalagi sampai masuk kedalam, bisa jadi inilah larangan paling keras di sekolah, "dan ingat anak-anak, jangan bermain di sekitar gedung bioskop!" ujar kepala sekolah sebagai kalimat penutup disetiap kami akan pulang.
Gelap dan lembab jika berada di dalam bioskop, kami berhasil masuk melalui pintu rahasia yang dengan bangga ditunjukkan oleh Andi, pintu itu terlihat sudah jarang sekali dilewati, indikasinya adalah tanaman liar yang tumbuh lebat tepat di depan pintu, “ri, mau lihat dalemnya bioskop nggak?” tanya Andi didepan pintu, "Ayo ndi, tapi sebentar aja" jawab saya ragu antara takut dengan larangan sekolah dan keinginan yang menggebu untuk mengetahui isi gedung bioskop, Andi berada di depan, saya mengikutinya dari belakang, berjalan pelan membuka sebuah pintu tua besar dari kayu yang sudah lapuk dan bolong-bolong dimakan usia, daun pintunya ada dua, di kiri dan kanan, knob pintu terbuat sederhana dari besi tua berkarat dengan fasilitas lubang gembok dari sisi luar, warna pintu itu putih bersih seperti dinding bangunannya, karena hanya memakai cat kapur atau yang biasa kami sebut Labur, warna putihnya mudah sekali menempel di seragam TK yang berwarna biru tua, praktis jika ada murid-murid TK yang seragamnya terkena cat kapur ini, dengan yakin guru-guru di TK langsung memarahi karena "telah" bermain di gedung bioskop. Tangan Andi masuk melalui lubang disebelah knob dan langsung terdengar seperti suara grendel yang ia tarik, dan terbukalah pintu tua itu. Lorong bioskop yang kami hadapi, bau pesing menyengat, lubang angin-angin di ujung lorong sedikit membantu pencahayaan, saya masih bisa melihat ada beberapa anak tangga di depan "Kamu udah pernah nonton disini?" tanya Andi "belum ndi, kalau kamu?" saya bertanya balik, kami menaiki anak tangga yang membawa kami di persimpangan. "itu, kita biasa nonton didalam situ" ujar Andi sambil menunjuk pintu yang tertutup kerai di kanan kami, "tapi itu biasannya terkunci" tambah Andi, saya segera memastikan dan setelah kerai dibuka pintu itu memang sudah tergembok. "Ada jalan lain?" tanya saya berharap, Andi langsung mengamati seluruh sudut lorong sambil berkata "Ada sih, tapi pak Mario mudah sekali melihat kita nanti", "pak Mario y?" jawab saya setelah mengingat sejenak nama itu, pak Mario adalah penjaga bioskop ini, ia tinggal di sebuah ruangan kecil yang masih menjadi bagian dari gedung bioskop, mungkin semacam rumah dinas untuknya. Kami sering sekali berkunjung ke rumah pak Mario, pintu depan rumahnya terletak di depan TK persis, ia tinggal bersama istrinya, pak Mario berumur sekitar 40an tahun dengan badan yang masih tinggi tegap sedikit kekar dan yang paling saya ingat adalah tatoo bunga mawar di dadanya sebelah kiri.
Sebenarnya, hubungan kami dengan pak Mario berawal ketika segerombolan kanak-kanak seperti kami secara tidak sengaja mengetahui kegiatan pak Mario di depan TV sedang memegang pengendali video game, juga suara khas dari video game yang sedang dimainkan olehnya, itu semua menambah keinginan kami untuk sekedar menonton, syukur-syukur di kasih pinjam, tapi dalam ingatan saya pak Mario tidak pernah sekalipun menawari kami untuk menikmati permainan keren tersebut dan beliau juga tidak pernah sama sekali memarahi kami seperti ketika istrinya mengusir kami semua yang bisa berjumlah 15-20an anak berjubel dalam satu pintu. Istrinya terkenal cerewet seperti mbok Bariyah di lakon si Unyil, ia mulai marah ketika fungsi pintu sebagai akses telah kami "blokir" bersama-sama, dan pemilihan tempat itu sebagai tempat menonton sebenarnya inisiatif kami, atau mungkin sebenarnya kesungkanan kami terhadap pak Mario, kami merasa pengertian aja dengan ruangan yang dimilikinya, begitu sempit, begitu banyak perabotan dan yang paling penting kenapa kami berada di depan pintu saat menonton adalah, sikap mengamini pak Mario dan istrinya yang ditunjukkan dengan tidak mempersilahkan kami masuk dan tidak juga mengusir kami. Jelasnya, pak Mario adalah maniak Nintendo 8 bit, itulah salah satu keinginan terbesar saya (mungkin juga keinginan teman-teman yang ikut nggrombol di depan pintu).
Memang istri pak Mario lebih sering menghilang masuk keruangan lagi didalam, hanya sesekali istrinya menghampiri pak Mario, itupun untuk mengantar minuman atau hanya sekedar kipas-kipas untuk mendapatkan kesejukan. Pak Mario terkenal dingin dengan anak-anak TK, ia tidak pernah sama sekali mengajak ngobrol kami yang bisa dibilang betah menunggu aksinya di sebuah permainan Nintendo. Permainan Mario Bros adalah yang paling sering dimainkan oleh pak Mario, itulah asal muasal nama yang kami berikan ke pak Mario. Nama itu terpaksa kami berikan karena sikap dinginnya terhadap kanak-kanak seperti kami, sampai-sampai kami tidak tahu siapa nama pak Mario sesungguhnya, kalaupun tahu mungkin saja hari ini lupa, jadi saya bersyukur telah berinisiatif bersama teman-teman dulu memanggilnya pak Mario, begitu menancap di kepala, toh nama seperti itu rasanya tidak merendahkan kewibawaan seseorang. Kebiasaan bertelanjang dada pak Mario membuat tatoo elangnya mudah terlihat dan tentu saja itu bisa menambah gahar, pak Mario biasa duduk di kursi berangka besi dengan tali-tali kecil dari karet sebagai alas duduknya, TV 14 inch 2 meter di depanya terletak diatas almari setinggi 1 meter, "pak Mario biasa melihat keadaan dari kaca di belakang TV!" bisik Andi sambil mengawasi lorong sebelah kiri kami, hati saya bergejolak mendengar kata-kata Andi, betapa tidak, saya sangat ingin sekali melihat seperti apa bentuk "TV raksasa" yang sering di ceritakan teman-teman di sekolah waktu itu, tapi di lain sisi saya sangat takut dengan sikap dingin pak Mario, saya hanya bisa diam tidak bereaksi atas bisikan Andi tadi.
"Bentuknya seperti apa sih ndi?" tanya saya, itulah bentuk kalimat tanya retoris yang sering saya gunakan, mungkin sampai sekarang saya masih menggunakan bentuk kalimat semacam itu untuk sekedar mengobati rasa sesak di hati akibat sesuatu yang diinginkan tidak bisa direalisasikan, "Apanya?" Andi balik bertanya "TV raksasanya ndi" Andi berhenti memeriksa lorong dan langsung menatap saya tajam "Seperti namanya ri, buwesarr!" Andi menunjuk ujung lorong pertama hingga ujung lorong kedua dengan dua tanganya "kira-kira segini besarnya!" tambah Andi dengan tangan terbentang, wah, besar sekali pikir saya, saya semakin penasaran, bagaimana caranya memasukkan TV sebesar itu?, berapa orang yang mengangkut?, lewat pintu sebelah mana?, TV nya aja segitu, kasetnya sebesar apa ya? pikiran saya melayang kemana-mana sambil duduk jongkok bersandar di tembok lorong.
Setelah napas tersengal-sengal kami tertunduk dan mulai tertawa bersama, mengingat kejadian yang baru saja kami alami bersama, tiba-tiba ibu Andi memanggil dari kejauhan dan Andi segera berpamitan pulang. Kami hanya mengucapkan kalimat saling berpamitan saja di tengah-tengah hati saya yang sedang berbahagia karena telah melihat isi dari gedung yang selama ini membuat saya penasaran, itu semua disebabkan oleh kegiatan mendengar cerita teman-teman, atau sekedar mencuri dengar pembicaraan kakak-kakak saya tentang bioskop. Setelah dipikir lagi saya layak untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada Andi.
Saya tidak tahu dimana dia sekarang, setelah lulus TK kami sudah tidak satu sekolah lagi, anak paling kuat di TK itu telah menghilang dari kehidupan saya entah kemana, detil wajahnya pun saya sudah banyak lupa apalagi jika sekarang bertemu dijalan, di saat usia sudah bertambah sekitar 19 tahun, niscaya kami tidak akan saling mengenal, saya sudah berupaya keras mengingat wajahnya tapi tetap saja hanya bibir tebalnya yang berhasil saya lukiskan di angan-angan, malah saya jadi teringat ketika saya di minggu pagi sedang bersama ibu melihat Andi beserta kakak laki-lakinya, adik perempuan, Ibu serta bapaknya di jalan sedang naik becak bersama, dia duduk di bibir becak bagian bawah, kakak nya menggendong adiknya, ibunya duduk memberikan suapan ke si bungsu dan bapak Andi mengayuh becak dibelakang. Sebagai kerja sambilan, bapaknya memang juga berprofesi sebagai tukang becak, mereka sekeluarga berjalan pelan dipinggir, dari pakaian yang mereka kenakan dan cerita Andi keesokan harinya disekolah, tujuan mereka saat itu adalah rekreasi ke taman rakyat di pinggir kota. Saya tidak begitu dekat dengan keluarga Andi dan hubungan saya dengan keluarganya juga tidak ada yang spesial , ditambah nasib malang menimpa banguan di sekitar TK kami, Gedung bioskop, kantor-kantor pemerintahan, perpustakaan umum dan TK kami yang selalu ceria pun telah ikut digusur dan dipindah. Hal ini dilakukan pemerintah kota untuk mewujudkan sebuah bangunan Mall pertama yang terlengkap di kota kecil milik kami, namun apapun yang terjadi sekarang, saya wajib mengenang Andi walau sesaat, dialah orang yang pertama memperlihatkan isi gedung bioskop kepada saya, meski gordyn masih menyelimuti "TV raksasa" itu dan yang paling penting adalah begitu sederhana yang diberikan olehnya saat seorang teman secara tak sengaja terlambat tahu darinya, yaitu, sebuah pendampingan. Sekali lagi Terima Kasih banyak ndi! semoga kita bisa bertemu di kesempatan yang akan datang...
(*Tulisan ini ditujukan untuk teman-teman yang juga telah menjadi pendamping-pendamping di masa pencerapan saat ini.)
Saturday, October 4, 2008
Melodi gelap Indonesia?
Saturday, July 5, 2008
Film Para Sesepuh
Wednesday, March 26, 2008
Saudara Dalam Tontonan
Alm. Ryan Hidayat dan Onky Alexander merupakan aktor - aktor muda yang mampu menyihir jutaan penontonnya lewat film layar lebar LUPUS dan CATATAN Si BOY, dan salah satu penonton yang tersihir itu mungkin adalah Mbak Nopi. Film - Film "Salon" yang menyelimuti hedonisme Indonesia di akhir 80an membuat para remaja Indonesia menjadi kaum Utopis setelah keluar dari bioskop. Tragedy dan Komedy yang terbalut menjadi satu dalam tema cinta merupakan kombinasi yang mematikan untuk "Membetahkan" penonton tetap duduk menikmati, bisa di tebak, menangis dan tertawa adalah kegiatan impian memasuki bioskop waktu itu. SELEKTA POP & ANEKA RIA SAFARI (Edi Sud) adalah acara TVRI yang dinanti mbak Novi di rumah, kalau yang ini mungkin karena hasrat menyanyi yang dimilikinya, dan hasilnya TVRI Surabaya menayangkan aksi menyanyi mbak Novi dalam acara LAGU PILIHANKU (Idola Cilik -nya TVRI SURABAYA th 82-83), Lagu MAMA yang di populerkan oleh penyanyi cilik Julius Sitanggang menjadi lagu andalan mbak Novi. Ibu Peni dengan Acara AYO MENYANYI regional JAWA TIMUR merupakan salah satu penyebab anak sekecil mbak Novi waktu itu pandai ber- Sol Mi Sa Si.
Wednesday, March 12, 2008
SAYA DAN TV
Ingatan paling lama saya mengenai menonton sebuah tontonan terjadi pada saat saya berumur 6 tahun (1991). Pembelian dekoder oleh bapak membuat saya betah duduk di depan TV, hanya bercawat dan kaus dalam berpita kecil di dada. Sebuah TV bermerk Johnson yang menggunakan font seperti grup band beraliran Death Metal itu (Sulit Dibaca) memang sangat mudah di ingat, bentuknya yang memanjang sekitar 1,75 meter dilengkapi pengaman layar kaca yang bisa dibuka-tutup mirip sebuah rolling door menyamping. TV tersebut tanpa remote, mungkin ini yang menjadi salah satu pemicu seorang anak menonton terlalu dekat dengan layar (sekarang mata saya mengalami rabun jauh). RCTI adalah favorit saya waktu itu, disamping sebuah paket acara dari TVRI berjudul RONA-RONA (Ripley's belive it or not -nya Indonesia). Dan yang paling heboh adalah saat si old skool Max Sopacoa membawakan acara tinju dunia di minggu pagi, saya pasti berebut dengan bapak atau kadang - kadang tetangga yang kebetulan belum punya pesawat TV waktu itu (ngapunten pak..) alasanya simpel, DORAEMON dan film anak - anak setelahnya. Pernah saya diguyur air sama ibu saya akibat ngotot sekuat tenaga tidak ingin menyaksikan tinju - tinjuan manusia itu, kesetanan saya langsung padam menerima air yang terasa dingin (belum mandi sih..) jadilah saya menangis di kamar mandi plus nasehat ibu yang bertubi. TV bagi saya adalah teman, teman dengan bermacam - macam sifatnya.


